Setiap tanggal 5 Juni, masyarakat di berbagai belahan dunia memperingati Hari Lingkungan Dunia. Momen ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah pengingat global mengenai pentingnya aksi nyata demi kelangsungan bumi.
Menghadapi krisis iklim global yang ditandai dengan peningkatan suhu bumi sebesar 1,1-1,5 derajat Celsius, komitmen kolektif menjadi kunci utama.
Melalui momentum ini, kita diajak untuk memahami cara menjaga lingkungan demi menekan laju kerusakan ekosistem.
Pertanyaannya, bagaimana cara menjaga kelestarian lingkungan secara efektif di tengah desakan kebutuhan ekonomi? Jawabannya terletak pada keterlibatan aktif masyarakat serta kolaborasi lintas sektor yang adaptif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Sinergi Lintas Sektor dalam Transisi Energi Berkeadilan
Komitmen nyata masyarakat dalam merawat bumi tercermin jelas dalam pelaksanaan program Inovasi Sosial dalam Pengembangan Hutan Tanaman Energy di Hutan Sosial yang dikembangkan Paiton Energy.
Melalui perencanaan program pengembangan Hutan Sosial Paiton Energy tahun 2026, terlihat bahwa upaya pemulihan ini digerakkan secara aktif melalui sinergi antara Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan PT Paiton Energy.
Kolaborasi ini berfokus pada pendampingan Kelompok Tani Hutan (KTH) Ranu Makmur dan KTH Alam Subur di Kecamatan Gading. Program ini menjadi bukti konkret mengenai cara menjaga lingkungan dengan melibatkan komunitas lokal sebagai penjaga garda terdepan hutan kemasyarakatan.
Aktivitas penanaman Hutan Tanaman Energi (HTE) ini berkontribusi langsung pada target nasional Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030, yang menargetkan lebih dari 60% penurunan emisi nasional pada sektor kehutanan.
Sebagai bentuk pemahaman terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui aksi nyata, para petani anggota Kelompok Tani Hutan Ranu Makmur dan Alam Subur di Kabupaten Probolinggo secara masif menanam pohon gamal. Tercatat sejak Januari 2025 hingga April 2026, masyarakat telah berhasil menanam 66.212 bibit gamal di atas lahan seluas 61,91 hektare.
Mitigasi Kendala Lapangan dan Kemandirian Lokal
Perjalanan menjaga ekosistem tentu tidak lepas dari tantangan biofisik di lapangan. Berdasarkan data pantauan teknis dari dokumen Laporan Kegiatan HTE Juli-Desember 2026, sekitar 2.520 pohon sempat mengalami kondisi kerdil akibat faktor tanah dan bibit, serta serangan hama kutu daun.
Komitmen kuat masyarakat diuji di sini, melalui bimbingan teknis, mereka mempraktikkan cara menjaga lingkungan secara tanggap dengan melakukan penyulaman sebanyak 5.882 bibit baru serta memberikan pemupukan presisi dengan formula urea dan Phonska.
Tidak hanya itu, masyarakat juga didorong untuk mencapai kemandirian mutlak melalui pembuatan tandon air swadaya dan pembangunan pusat pembibitan mandiri.
KTH Alam Subur berhasil memproduksi 5.000 bibit tanaman berkualitas tinggi di tingkat lokal guna meminimalkan risiko kerusakan bibit selama distribusi.
Sebagai bentuk insentif ekonomi, program ini memperkenalkan diversifikasi tanaman buah melalui skema tumpangsari di lahan kering.
Sebanyak ribuan bibit Alpukat Siger yang mampu memanen buah hingga 70–150 kg per pohon, serta kelengkeng akan mulai diintegrasikan di lahan andil petani.
Solusi inovatif ini memperlihatkan bagaimana cara menjaga kelestarian lingkungan tanpa mengorbankan ruang kelola pangan, karena tanaman energi ditanam secara teratur pada pola galengan barat-timur agar tidak menghalangi intensitas cahaya matahari bagi komoditas pangan pokok.
Tiga Langkah Strategis Operasional Intervensi Silvikultur
Untuk memastikan keberhasilan program Hutan Serbaguna Lestari di Probolinggo, PKKS UGM dan PT Paiton Energy menerapkan tiga alur operasional intervensi terintegrasi sebagai panduan teknis bagi masyarakat:
- Langkah 1: Persiapan Terpadu – Proses diawali dengan identifikasi kondisi biofisik lahan serta penyusunan kontrak sosial dengan para penggarap. Langkah ini diikuti dengan pembangunan persemaian mandiri oleh kelompok tani (dengan target 10.000 bibit) serta pengadaan instrumen penunjang seperti patok arah, ajir bambu (bambu penopang agar bibit tumbuh tegak) berukuran 100 cm, dan pupuk kandang.
- Langkah 2: Eksekusi Penanaman – Pada tahap penanaman di area seluas ±30 hektare ini, ajir dipasang secara spesifik dengan kedalaman 25 cm di bawah tanah dan sisa 75 cm berada di atas permukaan. Lubang tanam dibuat sedalam 30 cm dan diperkaya dengan pupuk kompos, diikuti penanaman vertikal mengikuti kontur lahan yang landai.
- Langkah 3: Pemeliharaan Pasca-Penanaman – Tahap akhir difokuskan pada aktivitas pendangiran, penyiapan sulaman bibit baru, serta mitigasi gulma. Parameter keberhasilan utama (KPI kritis) pada tahap ini adalah memastikan tingkat kelestarian hidup (survivability) tanaman berada di atas 80%, yang kemudian dilanjutkan dengan kalkulasi baseline cadangan karbon pasca-penanaman.
Penguatan Fondasi Kelembagaan untuk Masa Depan
Keberlanjutan aksi ekologi ini dikunci melalui penguatan aspek legalitas organisasi. Pendampingan berkala diberikan kepada kelompok tani untuk menyusun Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS) berjangka 10 tahun serta merapikan sistem administrasi AD dan ART.
KTH yang mandiri dan berbadan hukum kuat nantinya mampu mengelola inkubator bisnis kerakyatan secara mandiri, mulai dari hilirisasi keripik pisang dan singkong hingga persiapan infrastruktur perdagangan karbon berbasis masyarakat.
Disisi lain komitmen ini diperkuat oleh program Global Accelerator on Jobs and Social Protection for Just Transitions (GA) di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Program hasil kolaborasi PBB dan Bappenas ini dirancang untuk memastikan bahwa transisi menuju energi bersih tetap melindungi mata pencaharian warga lokal, khususnya mereka yang bergerak di dalam rantai pasok bahan baku biomass co-firing. Fokus program Global Accelerator adalah pada pengembangan kemandirian sosial dan ekonomi masyarakat.
Peringatan momentum Hari Lingkungan Dunia kembali mengetuk kesadaran kita bahwa nasib bumi bergantung pada aksi kolektif yang konsisten.
Rekam jejak hijau dari masyarakat Probolinggo memberikan contoh nyata bahwa cara menjaga lingkungan paling efektif adalah dengan menempatkan kesejahteraan masyarakat di dalam jantung konservasi itu sendiri.
Ketika ekonomi dan ekologi berjalan beriringan, pertanyaan mengenai bagaimana cara menjaga kelestarian lingkungan bukan lagi sekadar wacana di atas kertas, melainkan sebuah gerakan nyata yang tumbuh subur di setiap jengkal tanah pertiwi.

