Pandemi Covid-19 bukan sekadar krisis kesehatan, melainkan alarm bagi sektor bisnis untuk merombak strategi tanggung jawab sosial mereka. PT Paiton Energy menangkap momentum ini dengan meluncurkan Water Integrated Sustainability Program for Livelihood (WIS POL).
Program ini hadir sebagai jawaban atas tantangan keberlanjutan yang mengintegrasikan pilar sosial, ekonomi, dan lingkungan secara seimbang. Melalui penerapan pengelolaan air terpadu, perusahaan berupaya menciptakan kemandirian warga melalui wirausaha air bersih yang dikelola secara komunal.
Langkah ini menjadi pondasi penting bagi ketahanan finansial lokal, memastikan bahwa setiap tetes air yang mengalir di desa-desa sekitar operasional perusahaan mampu membasuh dahaga sekaligus menggerakkan roda ekonomi yang sempat tersendat akibat badai pandemi.
Sinergi Alam: Saat Hutan Selobanteng “Menghidupi” Binor
Keunikan program WIS POL terletak pada kolaborasi ekologis lintas desa. Desa Selobanteng yang berada di perbukitan tandus awalnya merupakan wilayah yang sulit air.
Namun, melalui prinsip pengelolaan sumberdaya air terpadu, masyarakat didorong merehabilitasi hutan rakyat sebagai kawasan tangkapan air.
Hasilnya luar biasa, hijaunya hutan Selobanteng tidak hanya meningkatkan debit air bagi 78 KK (Kartu Keluarga) di sana, tetapi alirannya juga meresap hingga ke sistem perairan Desa Binor di wilayah pesisir.
Inovasi ini membuktikan bahwa pelestarian lingkungan di hulu adalah investasi vital bagi ketersediaan sumber daya di hilir, menciptakan harmoni yang saling menguntungkan antar komunitas.
Inovasi “Hijau” Penekan Biaya
Dahulu, warga Desa Binor harus merogoh kocek lebih dalam karena harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. WIS POL membawa perubahan revolusioner dengan mengintegrasikan perlindungan lingkungan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Dengan pengelolaan air terpadu, harga air menjadi sangat terjangkau, hanya Rp1.500 hingga Rp2.000 per meter kubik.
Bagi warga pesisir yang sebelumnya bergelut dengan air payau dan warga perbukitan yang dulu harus memikul jerigen jauh, kehadiran pipa air langsung ke rumah adalah kemerdekaan yang nyata.
Dari Bantuan Menjadi Wirausaha: Peran BUMDes dan Koperasi
Keberlanjutan sebuah program sangat bergantung pada siapa yang memegang kendali. WIS POL menginstitusikan inovasi ini ke dalam wadah legal; di Desa Binor, air dikelola oleh Koperasi dan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), sementara di Selobanteng melalui kelompok masyarakat dan tani yang terorganisir.
Inilah inti dari pengelolaan sumberdaya air terpadu, air bukan lagi sekadar komoditas sosial, melainkan aset ekonomi desa.
Keuntungan dari penjualan air diputar kembali untuk perawatan infrastruktur dan modal usaha kecil lainnya, menciptakan ekosistem bisnis lokal yang resilient dan kompetitif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kepemimpinan Lokal dan Inklusi: Kunci Keberlanjutan
Program ini tidak hanya bicara soal pipa dan kebutuhan air, tapi juga soal manusia. WIS POL fokus pada peningkatan kapasitas kepemimpinan dan organisasi masyarakat.
Berdasarkan prinsip pengelolaan sumberdaya air terpadu, partisipasi aktif dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan, menjadi sangat penting.
Ketika masyarakat memiliki rasa kepemilikan yang tinggi, mereka tidak lagi menjadi objek bantuan, melainkan subjek perubahan yang mampu mengelola konflik kepentingan dan memastikan sumber daya alam mereka tetap terjaga hingga generasi mendatang.
Menatap Masa Depan yang Lebih Resiliensi
Tantangan masa depan seperti perubahan iklim memang berat, namun WIS POL telah meletakkan sistem yang solid.
Dengan dukungan pendanaan swasta dan semangat kolaborasi, program ini berpotensi berkembang ke penggunaan teknologi digital, seperti aplikasi pemantauan penggunaan air secara real-time.
Penerapan pengelolaan sumberdaya air terpadu secara konsisten akan memastikan bahwa keseimbangan antara profit, orang, dan planet bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang membawa kesejahteraan jangka panjang dan memulihkan martabat ekonomi masyarakat di masa depan.
Sebagai penutup, WIS POL adalah bukti nyata bahwa keterbatasan pascapandemi dapat diubah menjadi peluang melalui strategi pengelolaan air terpadu yang cerdas. Integrasi antara teknologi ramah lingkungan dan kekuatan komunitas lokal telah melahirkan model baru wirausaha yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menjaga kelestarian alam.
Keberlanjutan sosial dan ekonomi yang tercipta di Desa Binor dan Selobanteng menjadi inspirasi bagi praktik CSR masa depan.
Dengan mengedepankan pengelolaan sumberdaya air terpadu, kita tidak hanya sedang menyelamatkan satu siklus air, melainkan sedang membangun benteng ketahanan ekonomi yang mampu bertahan dari gempuran krisis apa pun di masa depan.

