Pesona Pantai Greenthing: Bangkitnya Dusun yang Hilang Melalui Ekowisata Mangrove

Kabupaten Probolinggo seolah tidak pernah kehabisan daya tarik alam, dan Pantai Greenthing atau Greenthing Beach di Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, adalah bukti nyata inovasi tersebut. 

Destinasi ini lahir dari sebuah memori kolektif tentang Dusun Grinting yang hilang akibat abrasi laut. Kehadiran objek wisata ini membawa angin segar bagi masyarakat lokal, terutama dalam melihat bagaimana dampak pariwisata terhadap ekonomi mulai memberikan pendapatan alternatif di luar sektor nelayan tradisional. 

Di sisi lain, pengelolaan yang berbasis alam memastikan bahwa dampak pariwisata terhadap lingkungan tetap terjaga melalui restorasi pesisir secara berkelanjutan bagi warga Desa Randutatah.

Transformasi Sejarah Menjadi Destinasi Unggulan

Nama “Greenthing” sendiri merupakan bentuk penghormatan sekaligus pelesetan kreatif dari nama Dusun Grinting. 

Lokasi yang dulunya merupakan kawasan terdampak bencana abrasi, kini disulap menjadi tempat wisata yang nyaman. 

Akses menuju lokasi ini sangat mudah; pengunjung cukup menuju Pesantren Nurul Jadid Paiton, lalu ke arah utara sekitar 3 kilometer hingga menemukan Kantor Desa Randutatah. Pantai ini berada tepat di belakang kantor desa tersebut.

Salah satu daya tarik unik di sini adalah melimpahnya sumber daya kerang. Pada musim tertentu saat air laut surut, pengunjung tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga bisa berburu kerang secara bebas. 

Aktivitas ini memberikan pengalaman berbeda yang jarang ditemukan di pantai-pantai lain di Probolinggo. Selain itu, panorama matahari terbenam (sunset) di musim kemarau menjadi magnet bagi anak muda dan mahasiswa untuk sekadar bersantai menikmati kopi di pinggir pantai.

Menakar Dampak Pariwisata Terhadap Ekonomi Desa

Keberadaan Greenthing Beach yang dikelola oleh BUMDes Duta Bahari telah menciptakan ekosistem keuangan baru di Desa Randutatah. 

Meskipun tidak ada tiket masuk resmi alias gratis, pengelola mendapatkan pemasukan dari jasa penitipan kendaraan, yakni Rp 5 ribu untuk motor dan Rp 10 ribu untuk mobil. 

Dengan rata-rata pengunjung mencapai 100-180 orang pada hari biasa dan melonjak hingga 400 orang saat akhir pekan, perputaran uang di lokasi ini cukup signifikan.

Secara lebih luas, dampak pariwisata terhadap ekonomi terlihat dari mulai tumbuhnya bedak-bedak UMKM di dalam area wisata. 

Warga lokal kini bisa berjualan makanan, minuman, hingga hasil laut kepada wisatawan. Kehadiran fasilitas perahu fiber juga membuka peluang pendapatan tambahan bagi BUMDes, di mana pengunjung dapat membayar tarif tertentu untuk menyusuri sungai mangrove sepanjang 800 meter. 

Hal ini membuktikan bahwa dampak pariwisata terhadap ekonomi tidak hanya menguntungkan pengelola secara kolektif, tetapi juga meningkatkan daya beli masyarakat secara individu melalui peluang usaha baru yang tercipta di sekitar area pantai.

Menakar Dampak Pariwisata Terhadap Lingkungan Pesisir

Karena pantai ini tumbuh dari sejarah abrasi, aspek ekologi menjadi prioritas utama. Pengelola menyadari bahwa dampak pariwisata terhadap lingkungan harus dikelola secara positif agar bencana masa lalu tidak terulang. 

Edukasi kepada pengunjung menjadi kunci, terutama dalam menjaga kebersihan area pesisir. Aksi bersih-bersih sampah pantai yang melibatkan ratusan peserta dan instansi seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menunjukkan komitmen kuat dalam meminimalisir risiko sampah plastik.

Pembangunan jembatan bambu yang membelah hutan mangrove merupakan salah satu cara mengarahkan wisatawan agar tidak merusak ekosistem asli saat menikmati pemandangan.

Upaya ini memastikan dampak pariwisata terhadap lingkungan tetap terkendali, di mana pertumbuhan vegetasi mangrove tetap terlindungi meski aktivitas manusia meningkat.

Penempatan banyak keranjang sampah di titik-titik strategis juga membantu membentuk perilaku wisatawan agar lebih bertanggung jawab terhadap kelestarian alam selama berkunjung ke Greenthing Beach.

Sinergi PT Paiton Energy dan PT POMI dalam Restorasi Mangrove

Fokus utama pengembangan Pantai Greenthing terletak pada mitigasi perubahan iklim melalui pelestarian hutan mangrove. 

PT Paiton Energy dan PT POMI memainkan peran krusial melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) mereka. 

Pada September 2022, kolaborasi ini telah menanam sebanyak 3.000 batang mangrove di area ini. Langkah ini sangat vital karena satu hektare hutan mangrove mampu menyerap sekitar 110 kilogram karbon, yang menjadikannya benteng alami terbaik melawan pemanasan global.

Dukungan perusahaan tidak berhenti pada penanaman bibit saja. Untuk mendukung operasional wisata, mereka memberikan bantuan berupa satu unit perahu fiber berkapasitas 7 orang, gerobak sampah, hingga meja kursi pantai. 

Sinergi ini bertujuan menciptakan “Desa Wisata” yang mandiri. Dengan fasilitas jembatan bambu yang estetik, pengunjung bisa menikmati kerimbunan mangrove tanpa menginjak akar-akar pohon yang sensitif, sehingga fungsi ekologis hutan tetap berjalan beriringan dengan fungsi rekreasi.

Secara keseluruhan, pengembangan Pantai Greenthing menjadi contoh sukses bagaimana sebuah desa bisa bangkit dari trauma bencana abrasi melalui konsep ekowisata. 

Melalui manajemen yang tepat, dampak pariwisata terhadap ekonomi telah memberikan kesejahteraan nyata bagi warga Randutatah, mulai dari pendapatan parkir hingga pemberdayaan UMKM lokal. 

Di sisi lain, upaya konservasi yang masif memastikan bahwa dampak pariwisata terhadap lingkungan berjalan ke arah yang positif dengan meningkatnya tutupan hutan mangrove.

Harapannya, kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan sektor swasta ini terus terjaga demi kelestarian alam dan kemakmuran ekonomi di masa depan.

Share the Post: